Saturday, January 30, 2010

KISAH NABI MUSA DAN KHIDIR A.S

Salah satu kisah Al-Qur'an yang sangat mengagumkan dan dipenuhi dengan misteri adalah, kisah seseorang hamba yang Allah SWT memberinya rahmat dari sisi-Nya dan mengajarinya ilmu. Kisah tersebut terdapat dalam surah al-Kahfi di mana ayat-ayatnya dimulai dengan cerita Nabi Musa, yaitu:
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan-jalan sampai bertahun-tahun." (QS. al-Kahfi: 60)
Kalimat yang samar menunjukkan bahwa Musa telah bertekad untuk meneruskan perjalanan selama waktu yang cukup lama kecuali jika beliau mampu mencapai majma' al-Bahrain (pertemuan dua buah lautan). Di sana terdapat suatu perjanjian penting yang dinanti-nanti oleh Musa ketika beliau sampai di majma' al-Bahrain. Anda dapat merenungkan betapa tempat itu sangat misterius dan samar. Para musafir telah merasakan keletihan dalam waktu yang lama untuk mengetahui hakikat tempat ini. Ada yang mengatakan bahwa tempat itu adalah laut Persia dan Romawi. Ada yang mengatakan lagi bahwa itu adalah laut Jordania atau Kulzum. Ada yang mengatakan juga bahwa itu berada di Thanjah. Ada yang berpendapat, itu terletak di Afrika. Ada lagi yang mengatakan bahwa itu adalah laut Andalus. Tetapi mereka tidak dapat menunjukkan bukti yang kuat dari tempat-tempat itu.
Seandainya tempat itu harus disebutkan niscaya Allah SWT akan rnenyebutkannya. Namun Al-Qur'an al-Karim sengaja menyembunyikan tempat itu, sebagaimana Al-Qur'an tidak menyebutkan kapan itu terjadi. Begitu juga, Al-Qur'an tidak menyebutkan nama-nama orang-orang yang terdapat dalam kisah itu karena adanya hikmah yang tinggi yang kita tidak mengetahuinya. Kisah tersebut berhubungan dengan suatu ilmu yang tidak kita miliki, karena biasanya ilmu yang kita kuasai berkaitan dengan sebab-sebab tertentu. Dan tidak juga ia berkaitan dengan ilmu para nabi karena biasanya ilmu para nabi berdasarkan wahyu. Kita sekarang berhadapan dengan suatu ilmu dari suatu hakikat yang samar; ilmu yang berkaitan dengan takdir yang sangat tinggi; ilmu yang dipenuhi dengan rangkaian tabir yang tebal.
Di samping itu, tempat pertemuan dan waktunya antara hamba yang mulia ini dan Musa juga tidak kita ketahui. Demikianlah kisah itu terjadi tanpa memberitahumu kapan terjadi dan di tempat mana. Al-Qur'an sengaja menyembunyikan hal itu, bahkan Al-Qur'an sengaja menyembunyikan pahlawan dari kisah ini. Allah SWT mengisyaratkan hal tersebut dalam firman-Nya:
"Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS. al-Kahfi: 65)
Al-Qur'an al-Karim tidak menyebutkan siapa nama hamba yang dimaksud, yaitu seorang hamba yang dicari oleh Musa agar ia dapat belajar darinya. Nabi Musa adalah seseorang yang diajak bebicara langsung oleh Allah SWT dan ia salah seorang ulul azmi dari para rasul. Beliau adalah pemilik mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya dan seorang Nabi yang Taurat diturunkan kepadanya tanpa melalui perantara. Namun dalam kisah ini, beliau menjadi seorang pencari ilmu yang sederhana yang harus belajar kepada gurunya dan menahan penderitaan di tengah-tengah belajarnya itu. Lalu, siapakah gurunya atau pengajarnya? Pengajarnya adalah seorang hamba yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur'an meskipun dalam hadis yang suci disebutkan bahwa ia adalah Khidir as.
Musa berjalan bersama hamba yang menerima ilmunya dari Allah SWT tanpa sebab-sebab penerimaan ilmu yang biasa kita ketahui. Mula-mula Khidir menolak ditemani oleh Musa. Khidir memberitahu Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Akhirnya, Khidir mau ditemani oleh Musa tapi dengan syarat, hendaklah ia tidak bertanya tentang apa yang dilakukan Khidir sehingga Khidir menceritakan kepadanya. Khidir merupakan simbol ketenangan dan diam; ia tidak berbicara dan gerak-geriknya menimbulkan kegelisahan dan kebingungan dalam diri Musa. Sebagian tindakan yang dilakukan oleh Khidir jelas-jelas dianggap sebagai kejahatan di mata Musa; sebagian tindakan Khidir yang lain dianggap Musa sebagai hal yang tidak memiliki arti apa pun; dan tindakan yang lain justru membuat Musa bingung dan membuatnya menentang. Meskipun Musa memiliki ilmu yang tinggi dan kedudukan yang luar biasa namun beliau mendapati dirinya dalam keadaan kebingungan melihat perilaku hamba yang mendapatkan karunia ilmunya dari sisi Allah SWT.
Ilmu Musa yang berlandaskan syariat menjadi bingung ketika menghadapi ilmu hamba ini yang berlandaskan hakikat. Syariat merupakan bagian dari hakikat. Terkadang hakikat menjadi hal yang sangat samar sehingga para nabi pun sulit memahaminya. Awan tebal yang menyelimuti kisah ini dalam Al-Qur'an telah menurunkan hujan lebat yang darinya mazhab-mazhab sufi di dalam Islam menjadi segar dan tumbuh. Bahkan terdapat keyakinan yang menyatakan adanya hamba-hamba Allah SWT yang bukan termasuk nabi dan syuhada namun para nabi dan para syuhada "cemburu" dengan ilmu mereka. Keyakinan demikian ini timbul karena pengaruh kisah ini.
Para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan Khidir. Sebagian mereka mengatakan bahwa ia seorang wali dari wali-wali Allah SWT. Sebagian lagi mengatakan bahwa ia seorang nabi. Terdapat banyak cerita bohong tentang kehidupan Khidir dan bagaimana keadaannya. Ada yang mengatakan bahwa ia akan hidup sampai hari kiamat. Yang jelas, kisah Khidir tidak dapat dijabarkan melalui nas-nas atau hadis-hadis yang dapat dipegang (otentik). Tetapi kami sendiri berpendapat bahwa beliau meninggal sebagaimana meninggalnya hamba-hamba Allah SWT yang lain. Sekarang, kita tinggal membahas kewaliannya dan kenabiannya. Tentu termasuk problem yang sangat rumit atau membingungkan. Kami akan menyampaikan kisahnya dari awal sebagaimana yang dikemukakan dalam Al-Qur'an.
Nabi Musa as berbicara di tengah-tengah Bani Israil. Ia mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT dan menceritakan kepada mereka tentang kebenaran. Pembicaraan Nabi Musa sangat komprehensif dan tepat. Setelah beliau menyampaikan pembicaraannya, salah seorang Bani Israil bertanya: "Apakah ada di muka bumi seseorang yang lebih alim darimu wahai Nabi Allah?" Dengan nada emosi, Musa menjawab: "Tidak ada."
Allah SWT tidak setuju dengan jawaban Musa. Lalu Allah SWT mengutus Jibril untuk bertanya kepadanya: "Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui di mana Allah SWT meletakkan ilmu-Nya?" Musa mengetahui bahwa ia terburu-buru mengambil suatu keputusan. Jibril kembali berkata kepadanya: "Sesungguhnya Allah SWT mempunyai seorang hamba yang berada di majma' al-Bahrain yang ia lebih alim daripada kamu." Jiwa Nabi Musa yang mulia rindu untuk menambah ilmu, lalu timbullah keinginan dalam dirinya untuk pergi dan menemui hamba yang alim ini. Musa bertanya bagaimana ia dapat menemui orang alim itu. Kemudian ia mendapatkan perintah untuk pergi dan membawa ikan di keranjang. Ketika ikan itu hidup dan melompat ke lautan maka di tempat itulah Musa akan menemui hamba yang alim.
Akhirnya, Musa pergi guna mencari ilmu dan beliau ditemani oleh seorang pembantunya yang masih muda. Pemuda itu membawa ikan di keranjang. Kemudian mereka berdua pergi untuk mencari hamba yang alim dan saleh. Tempat yang mereka cari adalah tempat yang sangat samar dan masalah ini berkaitan dengan hidupnya ikan di keranjang dan kemudian ikan itu akan melompat ke laut. Namun Musa berkeinginan kuat untuk menemukan hamba yang alim ini walaupun beliau harus berjalan sangat jauh dan menempuh waktu yang lama.
Musa berkata kepada pembantunya: "Aku tidak memberimu tugas apa pun kecuali engkau memberitahuku di mana ikan itu akan berpisah denganmu." Pemuda atau pembantunya berkata: "Sungguh engkau hanya memberi aku tugas yang tidak terlalu berat." Kedua orang itu sampai di suatu batu di sisi laut. Musa tidak kuat lagi menahan rasa kantuk sedangkan pembantunya masih bergadang. Angin bergerak ke tepi lautan sehingga ikan itu bergerak dan hidup lalu melompat ke laut. Melompatnya ikan itu ke laut sebagai tanda yang diberitahukan Allah SWT kepada Musa tentang tempat pertamuannya dengan seseorang yang bijaksana yang mana Musa datang untuk belajar kepadanya. Musa bangkit dari tidurnya dan tidak mengetahui bahwa ikan yang dibawanya telah melompat ke laut sedangkan pembantunya lupa untuk menceritakan peristiwa yang terjadi. Lalu Musa bersama pemuda itu melanjutkan perjalanan dan mereka lupa terhadap ikan yang dibawanya. Kemudian Musa ingat pada makanannya dan ia telah merasakan keletihan. Ia berkata kepada pembantunya: "Coba bawalah kepada kami makanan siang kami, sungguh kami telah merasakan keletihan akibat dari perjalanan ini."
Pembantunya mulai ingat tentang apa yang terjadi. Ia pun mengingat bagaimana ikan itu melompat ke lautan. Ia segera menceritakan hal itu kepada Nabi Musa. Ia meminta maaf kepada Nabi Musa karena lupa menceritakan hal itu. Setan telah melupakannya. Keanehan apa pun yang menyertai peristiwa itu, yang jelas ikan itu memang benar-benar berjalan dan bergerak di lautan dengan suatu cara yang mengagumkan. Nabi Musa merasa gembira melihat ikan itu hidup kembali di lautan dan ia berkata: "Demikianlah yang kita inginkan." Melompatnya ikan itu ke lautan adalah sebagai tanda bahwa di tempat itulah mereka akan bertemu dengan seseorang lelaki yang alim. Nabi Musa dan pembantunya kembali dan menelusuri tempat yang dilaluinya sampai ke tempat yang di situ ikan yang dibawanya bergerak dan menuju ke lautan.
Perhatikanlah permulaan kisah: bagaimana Anda berhadapan dengan suatu kesamaran dan tabir yang tebal di mana ketika Anda menjumpai suatu tabir di depan Anda terpampang maka sebelum tabir itu tersingkap Anda harus berhadapan dengan tabir-tabir yang lain. Akhirnya, Musa sampai di tempat di mana ikan itu melompat. Mereka berdua sampai di batu di mana keduanya tidur di dekat situ, lalu ikan yang mereka bawa keluar menuju laut. Di sanalah mereka mendapatkan seorang lelaki. Kami tidak mengetahui namanya, dan bagaimana bentuknya, dan bagaimana bajunya; kami pun tidak mengetahui usianya. Yang kita ketahui hanyalah gambaran dalam yang dijelaskan oleh Al-Qur'an: "Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahrnat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. "
Inilah aspek yang penting dalam kisah itu. Kisah itu terfokus pada sesuatu yang ada di dalam jiwa, bukan tertuju pada hal-hal yang bersifat fisik atau lahiriah. Allah SWT berfirman:
"Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu, maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: 'Bawalah ke rnari makanan kita; sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan hita ini.' Muridnya menjawab: 'Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.' Musa berkata: 'Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. " (QS. al-Kahfi: 61-65)
Bukhari mengatakan bahwa Musa dan pembantunya menemukan Khidir di atas sajadah hijau di tengah-tengah lautan. Ketika Musa melihatnya, ia menyampaikan salam kepadanya. Khidir berkata: "Apakah di bumimu ada salam? Siapa kamu?" Musa menjawab: "Aku adalah Musa." Khidir berkata: "Bukankah engkau Musa dari Bani Israil. Bagimu salam wahai Nabi dari Bani Israil." Musa berkata: "Dari mana kamu mengenal saya?" Khidir menjawab: "Sesungguhnya yang mengenalkan kamu kepadaku adalah juga yang memberitahu aku siapa kamu. Lalu, apa yang engkau inginkan wahai Musa?" Musa berkata dengan penuh kelembutan dan kesopanan: "Apakah aku dapat mengikutimu agar engkau dapat mengajariku sesuatu yang engkau telah memperoleh karunia dari-Nya." Khidir berkata: "Tidakkah cukup di tanganmu Taurat dan bukankah engkau telah mendapatkan wahyu. Sungguh wahai Musa, jika engkau ingin mengikutiku engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku."
Kita ingin memperhatikan sejenak perbedaan antara pertanyaan Musa yang penuh dengan kesopanan dan kelembutan dan jawaban Khidir yang tegas di mana ia memberitahu Musa bahwa ilmunya tidak harus diketahui oleh Musa, sebagaimana ilmu Musa tidak diketahui oleh Khidir. Para ahli tafsir mengemukakan bahwa Khidir berkata kepada Musa: "Ilmuku tidak akan engkau ketahui dan engkau tidak akan mampu sabar untuk menanggung derita dalam memperoleh ilmu itu. Aspek-aspek lahiriah yang engkau kuasai tidak dapat menjadi landasan dan ukuran untuk menilai ilmuku. Barangklali engkau akan melihat dalam tindakan-tindakanku yang tidak engkau pahami sebab-sebabnya. Oleh karena itu, wahai Musa, engkau tidak akan mampu bersabar ketika ingin mendapatkan ilmuku." Musa mendapatkan suatu pernyataan yang tegas dari Khidir namun beliau kembali mengharapnya untuk mengizinkannya menyertainya untuk belajar darinya. Musa berkata kepadanya bahwa insya Allah ia akan mendapatinya sebagai orang yang sabar dan tidak akan menentang sedikit pun.
Perhatikanlah bagaimana Musa, seorang Nabi yang berdialog dengan Allah SWT, merendah di hadapan hamba ini dan ia menegaskan bahwa ia tidak akan menentang perintahnya. Hamba Allah SWT yang namanya tidak disebutkan dalam Al-Qur'an menyatakan bahwa di sana terdapat syarat yang harus dipenuhi Musa jika ia bersikeras ingin menyertainya dan belajar darinya. Musa bertanya tentang syarat ini, lalu hamba yang saleh ini menentukan agar Musa tidak bertanya sesuatu pun sehingga pada saatnya nanti ia akan mengetahuinya atau hamba yang saleh itu akan memberitahunya. Musa sepakat atas syarat tersebut dan kemudian mereka pun pergi. Perhatikanlah firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi:
"Musa berkata kepadanya: 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?' Dia menjawab: 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?' Musa berkata: 'Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.' Dia berkata: 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.'" (QS. al-Kahfi: 66-70)
Musa pergi bersama Khidir. Mereka berjalan di tepi laut. Kemudian terdapat perahu yang berlayar lalu mereka berbicara dengan orang-orang yang ada di sana agar mau mengangkut mereka. Para pemilik perahu mengenal Khidir. Lalu mereka pun membawanya beserta Musa, tanpa meminta upah sedikit pun kepadanya. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada Khidir. Namun Musa dibuat terkejut ketika perahu itu berlabuh dan ditinggalkan oleh para pemiliknya, Khidir melobangi perahu itu. Ia mencabut papan demi papan dari perahu itu, lalu ia melemparkannya ke laut sehingga papan-papan itu dibawa ombak ke tempat yang jauh.
Musa menyertai Khidir dan melihat tindakannya dan kemudian ia berpikir. Musa berkata kepada dirinya sendiri: "Apa yang aku lakukan di sini, mengapa aku berada di tempat ini dan menemani laki-laki ini? Mengapa aku tidak tinggal bersama Bani Israil dan membacakan Kitab Allah SWT sehingga mereka taat kepadaku? Sungguh Para pemilik perahu ini telah mengangkut kami tanpa meminta upah. Mereka pun memuliakan kami tetapi guruku justru merusak perahu itu dan melobanginya." Tindakan Khidir di mata Musa adalah tindakan yang tercela. Kemudian bangkitlah emosi Musa sebagai bentuk kecemburuannya kepada kebenaran. Ia terdorong untuk bertanya kepada gurunya dan ia lupa tentang syarat yang telah diajukannya, agar ia tidak bertanya apa pun yang terjadi. Musa berkata: "Apakah engkau melobanginya agar para penumpangnya tenggelam? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang tercela." Mendengar pertanyaan lugas Musa, hamba Allah SWT itu menoleh kepadanya dan menunjukkan bahwa usaha Musa untuk belajar darinya menjadi sia-sia karena Musa tidak mampu lagi bersabar. Musa meminta maaf kepada Khidir karena ia lupa dan mengharap kepadanya agar tidak menghukumnya.
Kemudian mereka berdua berjalan melewati suatu kebun yang dijadikan tempat bermain oleh anak-anak kecil. Ketika anak-anak kecil itu sudah letih bermain, salah seorang mereka tampak bersandar di suatu pohon dan rasa kantuk telah menguasainya. Tiba-tiba, Musa dibuat terkejut ketika melihat hamba Allah SWT ini membunuh anak kacil itu. Musa dengan lantang bertanya kepadanya tentang kejahatan yang baru saja dilakukannya, yaitu membunuh anak laki-laki yang tidak berdosa. Hamba Allah SWT itu kembali mengingatkan Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Musa meminta maaf kepadanya karena lagi-lagi ia lupa. Musa berjanji tidak akan bertanya lagi. Musa berkata ini adalah kesempatan terakhirku untuk menemanimu. Mereka pun pergi dan meneruskan perjalanan. Mereka memasuki suatu desa yang sangat bakhil. Musa tidak mengetahui mengapa mereka berdua pergi ke desa itu dan mengapa tinggal dan bermalam di sana. Makanan yang mereka bawa habis, lalu mereka meminta makanan kepada penduduk desa itu, tetapi penduduk itu tidak mau memberi dan tidak mau menjamu mereka.
Kemudian datanglah waktu sore. Kedua orang itu ingin beristirahat di sebelah dinding yang hampir roboh. Musa dibuat terkejut ketika melihat hamba itu berusaha membangun dinding yang nyaris roboh itu. Bahkan ia menghabiskan waktu malam untuk memperbaiki dinding itu dan membangunnya seperti baru. Musa sangat heran melihat tindakan gurunya. Bagi Musa, desa yang bakhil itu seharusnya tidak layak untuk mendapatkan pekerjaan yang gratis ini. Musa berkata: "Seandainya engkau mau, engkau bisa mendapat upah atas pembangunan tembok itu." Mendengar perkataan Musa itu, hamba Allah SWT itu berkata kepadanya: "Ini adalah batas perpisahan antara dirimu dan diriku." Hamba Allah SWT itu mengingatkan Musa tentang pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan dan ia mengingatkannya bahwa pertanyaan yang ketiga adalah akhir dari pertemuan.
Kemudian hamba Allah SWT itu menceritakan kepada Musa dan membongkar kesamaran dan kebingungan yang dihadapi Musa. Setiap tindakan hamba yang saleh itu—yang membuat Musa bingung—bukanlah hasil dari rekayasanya atau dari inisiatifnya sendiri, ia hanya sekadar menjadi jembatan yang digerakkan oleh kehendak Yang Maha Tingi di mana kehendak yang tinggi ini menyiratkan suatu hikmah yang tersembunyi. Tindakan-tindakan yang secara lahiriah tampak keras namun pada hakikatnya justru menyembunyikan rahmat dan kasih sayang. Demikianlah bahwa aspek lahiriah bertentangan dengan aspek batiniah. Hal inilah yang tidak diketahui oleh Musa. Meskipun Musa memiliki ilmu yang sangat luas tetapi ilmunya tidak sebanding dengan hamba ini. Ilmu Musa laksana setetes air dibandingkan dengan ilmu hamba itu, sedangkan hamba Allah SWT itu hanya memperoleh ilmu dari Allah SWT sedikit, sebesar air yang terdapat pada paruh burung yang mengambil dari lautan. Allah SWT berfirman:
"Maka berjalanlah heduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: 'Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya hamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.' Dia (Khidir) berkata: 'Bukankah aku telah berkata: 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.' Musa berkata: 'Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.' Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata: 'Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.' Khidir berkata: 'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku?' Musa berkata: 'Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertairnu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.' Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata: 'Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.' Khidir berkata: 'Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia ahan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereha mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari hasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakuhannya itu menurut kemauanku sendvri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.'" (QS. al-Kahfi: 71-82)
Hamba saleh itu menyingkapkan dua hal pada Musa: ia memberitahunya bahwa ilmunya, yakni ilmu Musa sangat terbatas, kemudian ia memberitahunya bahwa banyak dari musibah yang terjadi di bumi justru di balik itu terdapat rahmat yang besar. Pemilik perahu itu akan menganggap bahwa usaha melobangi perahu mereka merupakan suatu bencana bagi mereka tetapi sebenarnya di balik itu terdapat kenikmatan, yaitu kenikmatan yang tidak dapat diketahui kecuali setelah terjadinya peperangan di mana raja akan memerintahkan untuk merampas perahu-perahu yang ada. Lalu raja itu akan membiarkan perahu-perahu yang rusak. Dengan demikian, sumber rezeki keluarga-keluarga mereka akan tetap terjaga dan mereka tidak akan mati kelaparan. Demikian juga orang tua anak kecil yang terbunuh itu akan menganggap bahwa terbunuhnya anak kecil itu sebagai musibah, namun kematiannya justru membawa rahmat yang besar bagi mereka karena Allah SWT akan memberi mereka—sebagai ganti darinya—anak yang baik yang dapat menjaga mereka dan melindungi mereka pada saat mereka menginjak masa tua dan mereka tidak akan menampakkan kelaliman dan kekufuran seperti anak yang terbunuh. Demikianlah bahwa nikmat terkadang membawa sesuatu bencana dan sebaliknya, suatu bencana terkadang membawa nikmat. Banyak hal yang lahirnya baik temyata justru di balik itu terdapat keburukan.
Mula-mula Nabi Allah SWT Musa menentang dan mempersoalkan tindakan hamba Allah SWT tersebut, kemudian ia menjadi mengerti ketika hamba Allah SWT itu menyingkapkan kepadanya maksud dari tindakannya dan rahmat Allah SWT yang besar yang tersembunyi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Selanjutnya, Musa kembali menemui pembatunya dan menemaninya untuk kembali ke Bani Israil. Sekarang, Musa mendapatkan keyakinan yang luar biasa. Musa telah belajar dari mereka dua hal: yaitu ia tidak merasa bangga dengan ilmunya dalam syariat karena di sana terdapat ilmu hakikat, dan ia tidak mempersoalkan musibah-musibah yang dialami oleh manusia karena di balik itu terdapat rahmat Allah SWT yang tersembunyi yang berupa kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Itulah pelajaran yang diperoleh Nabi Musa as dari hamba ini. Nabi Musa mengetahui bahwa ia berhadapan dengan lautan ilmu yang baru di mana ia bukanlah lautan syariat yang diminum oleh para nabi. Kita berhadapan dengan lautan hakikat, di hadapan ilmu takdir yang tertinggi; ilmu yang tidak dapat kita jangkau dengan akal kita sebagai manusia biasa atau dapat kita cerna dengan logika biasa. Ini bukanlah ilmu eksperimental yang kita ketahui atau yang biasa terjadi di atas bumi, dan ia pun bukan ilmu para nabi yang Allah SWT wahyukan kepada mereka.
Kita sekarang sedang membahas ilmu yang baru. Lalu siapakah pemilik ilmu ini? Apakah ia seorang wali atau seorang nabi? Mayoritas kaum sufi berpendapat bahwa hamba Allah SWT ini dari wali-wali Allah SWT. Allah SWT telah memberinya sebagian ilmu laduni kepadanya tanpa sebab-sebab tertentu. Sebagian ulama berpendapat bahwa hamba saleh ini adalah seorang nabi. Untuk mendukung pernyataannya ulama-ulama tersebut menyampaikan beberapa argumentasi melalui ayat Al-Qur'an yang menunjukkan kenabiannya.
Pertama, firman-Nya:
"Lalu mereka bertemu dengan searang hamba di antara hamba-ham-ba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."
Kedua, perkataan Musa kepadanya:
"Musa berkata kepadanya: 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?' Dia menjawab: 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu ?' Musa berkata: 'lnsya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orangyang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.' Dia berkata: 'Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu rmnanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu,'" (QS. al-Kahfi: 66-70)
Seandainya ia seorang wali dan bukan seorang nabi maka Musa tidak akan berdiaog atau berbicara dengannya dengan cara yang demikian dan ia tidak akan menjawab kepada Musa dengan jawaban yang demikian. Bila ia bukan seorang nabi maka berarti ia tidak maksum sehingga Musa tidak harus memperoleh ilmu dari seseorang wali yang tidak maksum.
Ketiga, Khidir menunjukkan keberaniannya untuk membunuh anak kecil itu melalui wahyu dari Allah SWT dan perintah dari-Nya. Ini adalah dalil tersendiri yang menunjukkan kenabiannya dan bukti kuat yang menunjukkan kemaksumannya. Sebab, seorang wali tidak boleh membunuh jiwa yang tidak berdosa dengan hanya berdasarkan kepada keyakinannya dan hatinya. Boleh jadi apa yang terlintas dalam hatinya tidak selalu maksum karena terkadang ia membuat kesalahan. Jadi, keberanian Khidir untuk membunuh anak kacil itu sebagai bukti kenabiannya.
Keempat, perkataan Khidir kepada Musa:
"Sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. " (QS. al-Kahfi: 82)
Yakni, apa yang aku lakukan bukan dari doronganku sendiri namun ia merupakan perintah dari Allah SWT dan wahyu dari-Nya. Demikianlah pendapat para ulama dan para ahli zuhud. Para ulama berpendapat bahwa Khidir adalah seorang Nabi sedangkan para ahli zuhud dan para tokoh sufi berpendapat bahwa Khidir adalah seorang wali dari wali-wali Allah SWT.
Salah satu pernyataan Kliidir yang sering dikemukakan oleh tokoh sufi adalah perkataan Wahab bin Munabeh, Khidir berkata: "Wahai Musa, manusia akan disiksa di dunia sesuai dengan kadar kecintaan mereka atau kecenderungan mereka terhadapnya (dunia)." Sedangkan Bisyir bin Harits al-Hafi berkata: "Musa berkata kepada Khidir: "Berilah aku nasihat." Khidir menjawab: "Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan kamu untuk taat kepada-Nya." Para ulama dan para ahli zuhud berselisih pendapat tentang Khidir dan setiap mereka mengklaim kebenaran pendapatnya. Perbedaan pendapat ini berujung pangkal kepada anggapan para ulama bahwa mereka adalah sebagai pewaris para nabi, sedangkan kaum sufi menganggap diri mereka sebagai ahli hakikat yang mana salah satu tokoh terkemuka dari ahli hakikat itu adalah Khidir. Kami sendiri cenderung untuk menganggap Khidir sebagai seorang nabi karena beliau menerima ilmu laduni. Yang jelas, kita tidak mendapati nas yang jelas dalam konteks Al-Qur'an yang menunjukkan kenabiannya dan kita juga tidak menemukan nas yang gamblang yang dapat kita jadikan sandaran untuk menganggapnya sebagai seorang wali yang diberi oleh Allah SWT sebagian ilmu laduni.
Barangkali kesamaran seputar pribadi yang mulia ini memang disengaja agar orang yang mengikuti kisah tersebut mendapatkan tujuan utama dari inti cerita. Hendaklah kita berada di batas yang benar dan tidak terlalu jauh mempersoalkan kenabiannya atau kewaliannya. Yang jelas, ketika kami memasukkannya dalam jajaran para nabi karena ia adalah seorang guru dari Musa dan seorang ustadz baginya untuk beberapa waktu.♦

Tuesday, January 26, 2010

PESAN RASULULLAH

"1.Telah bersabda Rasulullah saw, barang siapa menyebut nama Allah sebelum fajar dan sebelum terbit matahari atau sebelum terbenamnya, nescaya Allah malu untuk menyeksanya dengan api neraka.

2.Telah bersabda Rasulullah saw, apabila engkau selesai sembahyang subuh, duduklah sehingga matahari terbit. Maka sesungguhnya Allah taala akan menulis pahala haji dan umrah atau pahala memerdekakan hamba atau bersedekah seribu dinar pada jalan Allah.

3.Telah bersabda Rasulullah saw, biasakan dirimu berdoa antara azan dan iqamat, sesungguhnya doa itu tidak akan ditolak.

4.Telah bersabda Rasulullah saw, hamba yang paling dicintai Allah ialah orang yang sujud sambil berkata dalam sujudnya…’Ya Allah,bahawasanya aku telah menzalimi diriku, maka Kau ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada apa yang mengampuni dosa melainkan Engkau.

5.Telah bersabda Rasulullah saw, sembahyanglah Engkau di tengah malam walau sekadar memerah susu kambing. Sesungguhnya orang yang bersembahnyang di tengah malam itu adalah secantik-cantik manusia mukanya.

6.Telah bersabda Rasulullah saw, sesungguhnya para malaikat akan memohon keampunan bagi manusia selagi dia berada dalam kesucian dan tidak berhadas.

7.Telah bersabda Rasulullah saw, lazimkanlah diri dengan sembahyang secara berjemaah kerana disisi Allah adalah seperti jalan mu mengerjakan haji dan umrah. Dan tidak ada yang bersungguh-sungguh menunaikan sembahyang jemaah melainkan orang mukmin yang dicintai oleh Allah swt.

8.Telah bersabda Rasulullah saw, berangsiapa yang Allah berikan nikmat kepadanya, dia bersyukur dan Allah beri dugaan, dia bersabar dan jika dia berbuat jahat dia memohon ampun,nescaya bolehlah dia masuk syurga dari pintu mana yang dikehendaki.

9.Telah bersabda Rasulullah saw,berangsiapa yang membaca surah At-Thaariq pada waktu malam sebelum tidur, nescaya dituliskan baginya sebanyak bilangan bintang di langit menjadi kebajikan.

10.Telah bersabda Rasulullah saw,berilah salam kepada orang yang engkau jumpai daripada kaum muslimin, nescaya Allah tuliskan bagi mu 20 kebajikan dan jika menyambut salam, maka Allah akan tuliskan 4o kebajikan.

APABILA JENAZAH DI USUNG

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri r.a. : Rasulullah Saw pernah bersabda, “Apabila jenazah telah siap dan para lelaki mengusungnya di atas bahunya, jenazah orang soleh akan berkata, ‘cepatlah’. Tetapi jenazah orang yang tidak soleh akan berkata, ‘celakah ! ke mana kamu akan membawaku?’. Suaranya terdengar oleh semua alam, kecuali manusia. Dan sekiranya manusia (dapat mendengarnya) ia akan jatuh pengsan”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “bersegeralah dengan jenazah kerana apabila ia seorang yang saleh, kau membawanya ke sesuatu yang baik. Dan apabila sebaliknya (bukan seorang yang soleh), kau meletakkan keburukan di atas lehermu.”

Dalam satu hadith disebut, kubur itu pintu ke alam Barzakh (alam perantaraan). Ada orang rasa sekejap sahaja masa di alam barzakh, ada yang merasa lama. Rasulullah saw mengingatkan umatnya supaya mereka meminta perlindungan Allah s.w.t dari azab kubur. Azab kubur adalah azab yang halus. Selain dari azab halus, ada juga nikmat halus. Kubur itu satu taman dari taman syurga atau satu gaung dari gaung neraka. Terpulanglah kepada keadaan seseorang. Kitalah yang membentuknya. Dalam hadith yang lain pula, sesiapa yang meninggal dunia, maka tertegaklah hari kiamatnya” (kiamat kecil).

Dalam mazhab Hanafi, jenazah dihantar terlebih dahulu sebelum orang ramai pergi ke kubur. Dalam mazhab Syafie pula orang ramai pergi dahulu ke kubur sebelum jenazah mengikuti dari belakang. Kedua-duanya adalah sunnah Nabi dari hadith-hadith.

Dalam hadith ada disebut supaya jangan menceritakan keburukan orang yang telah mati.

Amalan talkin yang sebenarnya ialah mengajar seseorang itu menyebut “La ilaha illallah” sebelum dia meninggal dunia. Dari Abu Hurairah, Rasululullah saw bersabda “Ajarlah orang yang akan mati (dekat saat kematian) dikalangan kamu “La ilaha illallah”(Riwayat Muslim). Talkin yang dibaca selepas seseorang meninggal dunia bukanlah dari mana-mana mazhab, cuma dari seorang murid Imam Syafie iaitu Imam Muzani. Paderi-paderi Kristian yang berkedudukan juga mengamalkan talkin iaitu sebelum mereka meninggal dunia, mereka akan mengajar talkin. “kalau ada malaikat datang dan bertanya beritahu mereka Nabi Muhammad itulah nabi yang sebenarnya”.

Soal-jawab dalam kubur

Hadith dari Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. bersabda:Apabila ditanam mayat, maka didatangi dua malaikat yang hitam legam dan matanya biru dikenali dengan Mungkar dan Nakir yang mendudukkan mayat itu dan memasukkan roh ke dalam jasadnya dan bertanya:“Apa yang kamu katakan (apa pendapat kamu) tentang lelaki ini”

Dalam Riwayat Abu Daud disebut, “Apa akidah kamu tentang lelaki ini?Allah akan memberi hidayah kepada orang mukmin yang akan menjawab “Ini Rasul kami” dan kami telah beriman dengannya”

Dalam satu riwayat yang lain, “Siapa lelaki ini yang diutuskan kepada kamu?” Orang mukmin akan menjawab itu hamba Allah dan Rasulnya. Aku naik saksi Muhammad itu hamba Allah dan rasul kamu. Malaikat mengatakan “aku tahu kamu boleh jawab”

KELEBIHAN SOLAT BERJEMAAH DI MASJID

Masuk Syurga Tanpa Hisab.

Ada 3 golongan yang sembahyang berjemaah di masjid yang dimasukkan ke dalam syurga tanpa hisab:

Golongan pertama ialah orang yang ketika azan berbunyi dia sudah berada di dalam masjid (menunggu azan di masjid).

Golongan kedua ialah orang yang berada dalam perjalanan ke masjid ketika azan dikumandangkan.

Golongan ketiga pula ialah orang yang bergegas keluar dari rumahnya setelah mendengar azan menuju ke masjid tempat azan dikumandangkan

Terima suratan amal dengan tangan kanan


Semasa bersembahyang di dunia ini manusia akan mengangkat tangannya dan bertakbir. Di hari kiamat pula, tangan-tangan manusia akan terangkat untuk menerima suratan amal (kitab catitan amalan) yang datang sendiri dari Arasy dengan kuasa Allah terus kepada tangan-tangan mereka.


Suratan amal itu ada yang diberi ke tangan kanan tuannya dan ada yang diberi ke tangan kirinya. Orang yang diberikan suratan amalnya ke tangan kanannya merasa besar hati dan berbangga dengan yang demikian sehingga ia menyeru orang-orang lain supaya membacanya;

Haqqah [19] Maka sesiapa yang diberikan menerima Kitab amalnya dengan tangan kanannya, maka dia akan berkata (dengan sukacitanya kepada sesiapa yang ada di sisinya): Nah! Bacalah kamu Kitab amalku ini!

Israa [71] (Ingatlah) hari Kami menyeru tiap-tiap kumpulan manusia dengan nama imamnya; kemudian sesiapa diberikan Kitabnya di tangan kanannya, maka mereka itu akan membacanya (dengan sukacita) dan mereka tidak dikurangkan (pahala amal-amalnya yang baik) sedikitpun.

PEREMPUAN DAN AURAT

Dalam satu hadith disebut, “Syaitan menunggu-nunggu bila perempuan hendak keluar dari rumahnya”. Apabila perempuan berjalan keluar, dua syaitan meng”eksploitasi”nya, satu syaitan menghiasi depan dan satu lagi menghiasi belakangnya. Syaitan mengguna-pakai perempuan untuk mempesona para lelaki di luar rumahnya.

Ibnu Mas’ud ra telah meriwayatkan bahawa Rasulullah saw telah bersabda , “Wanita adalah objek yang tersorok (aurat), apabila ia keluar syaitan akan menghias mereka untuk menggoda kaum lelaki” (At-Tirmizi).

Tutup aurat itu terdiri dari dua perkara iaitu menutup kulit badan dan menutup bentuk badan (susuk badan). Pakai baju yang longgar-longgar supaya tidak nampak bentuk badan. Ini kerana pakaian yang ketat boleh menarik perhatian orang. Selain itu pakaian yang jarang menampakkan aurat tidak memenuhi syarat menutup aurat. Pakaian jarang bukan saja menampakkan warna kulit, malah boleh merangsang nafsu orang yang melihatnya.

Apabila nafsu seseorang lelaki terangsang setelah melihat perempuan yang mendedahkan aurat, ia mungkin terbawa-bawa sehingga ke bilik tidurnya semasa berjimak dengan isterinya. Akibatnya ramailah anak perempuan yang lahir setelah melihat perempuan yang membuka selera nafsu lelaki. Dalam hadith disebut bahawa pada akhir zaman bilangan perempuan melebihi lelaki.

“Di antara tanda qiamat ialah sedikit ilmu, banyak kejahilan, berlaku banyak perzinaan, ramai kaum perempuan dan sedikit kaum lelaki, sehingga nantinya seorang lelaki akan mengurus limapuluh orang perempuan.”H.R. Bukhari Muslim

Perempuan yang dedah aurat tidak cium bau syurga

Nabi bersabda bermaksud: “Dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat ialah, satu golongan memegang cemeti seperti ekor lembu yang digunakan bagi memukul manusia, dan satu golongan lagi wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang dan meliuk-liuk badan juga kepalanya seperti bonggol unta yang tunduk. Mereka tidak masuk syurga dan tidak dapat mencium baunya walaupun bau syurga itu dapat dicium daripada jarak yang jauh.” (Hadis riwayat Muslim)

Nabi SAW pernah bersabda: “Perempuan yang memakai baju tetapi telanjang, dan dia memandang lelaki lain, dan membuatkan lelaki-lelaki lain terpandang kepadanya, maka perempuan ini tidak akan cium bau syurga. Sedangkan bau syurga sudah pun boleh dibau dari jarak 500 tahun perjalanan.” (Riwayat Al-Bukhari & Muslim)

Ahli Sunnah Wal-Jamaah berpendapat bahawa tidak mencium bau syurga bermaksud mereka lambat masuk syurga (tetap masuk syurga sekiranya mereka memiliki iman)

Monday, January 25, 2010

PERANG BADAR

Perang Badar ialah peperangan pertama antara orang Islam dengan kafir. Pada mulanya orang Islam tidak berhajat untuk berperang. Ketua musuh islam pada masa itu ialah Abu Sufian telah membawa balik barang dagangan dari Syam melalui satu tempat di luar Madinah bernama Badar dan di situ ada telaga untuk mengambil air buat bekalan. Berita Abu Sufian membawa balik barang dagangan yang banyak telah sampai kepada orang Islam di Madinah.

Dalam satu mesyuarat orang Islam di sebuah masjid, mereka memutuskan untuk menyekat rombongan Abu Sufian dan merampas barang dagangannya di tempat yang bernama Badar. (Harta musuh halal dan boleh dijadikan harta rampasan). Mesyuarat itu turut dihadiri oleh orang Islam Munafik (pura-pura). Orang Munafik itu telah memberitahu geng-gengnya di luar masjid iaitu orang Yahudi tentang sekatan di Badar itu. Orang Yahudi pula memberitahu Abu Sufian tentang sekatan itu. Abu Sufian membuat keputusan untuk melalui jalan lain iaitu jalan bukit, namun unta yang membawa barang dagangan tetap melalui jalan asal.

Abu Sufian kemudiannya menghantar utusannya ke Mekah, membakar semangat 1,000 Quraisy yang sememangnya bermusuh dengan nabi Muhammad SAW untuk berperang. Mereka mengumpulkan kekuatan seperti kuda, pedang, baju besi. Abu Jahal dan Abu Lahab juga turut serta dalam perang ini.

Sebelum tentera Islam sampai ke Badar, mereka bertembung dengan puak Quraisy dari Mekah seramai 1,000 orang sedangkan jumlah mereka cuma 313 orang, (3+3+1=7).Angka 7 menunjukkan kekuatan seperti kuatnya langit dan bumi yang mempunyai tujuh (7) lapisan. Lalu Nabi Muhammad SAW berdoa kepada Allah.


Doa Nabi semasa Perang Badar

Dalam doanya baginda berkata: “Ya Allah, jika Engkau binasakan pasukan ini (Islam) Engkau tak akan disembah lagi dimuka bumi ini. Ya Allah penuhilah janjimu kepadaku. Ya Allah, berikanlah pertolonganmu”.

Baginda berdoa sambil mengangkat tangannya keatas sehingga kain serbannya terjatuh dari bahu baginda. Melihatkan akan hal ini Sayyidina Abu Bakar menenangkan hati Nabi kerana merasa kasihan melihat Nabi memperbanyakkan bermunajat kepada Allah untuk memohon pertolongan.

Kelengkapan orang Islam

Orang Islam pada masa itu cuma mempunyai beberapa bilah pedang, kayu dan beberapa ekor kuda sahaja berbanding tentera kafir yang cukup kelengkapan. Namun mereka mempunyai kekuatan rohani yang terhasil dari sembahyang dan zikir pada waktu pagi dan petang. Setelah mengumpulkan kekuatan senjata yang termampu dan tentera Islam berjumlah 313 orang, turunlah perintah supaya mereka berperang.


Kemenangan Islam


Abu Jahal dibunuh oleh seorang pemuda sahaja setelah dikepung oleh beberapa sahabat Nabi. Tentera musuh seramai 70 orang telah ditawan. Setelah itu tentera Islam bermesyuarat tentang apa yang hendak dilakukan dengan tawanan itu. Sayyidina Abu Bakar mencadangkan supaya mengambil harta tawanan, manakala Sayyidina Umar mencadangkan agar dibunuh sahaja tawanan perang Badar itu supaya mereka ’serik’ (fasyarrid) :

Al-Anfal [57] Oleh itu, jika engkau menemui mereka dalam peperangan maka hancurkanlah mereka (supaya dengan itu) orang-orang yang di belakang mereka (gerun gentar); mudah-mudahan orang-orang itu pula beringat (insaf).

Sayyidina Umar mencadangkan supaya setiap orang Islam membunuh keluarganya dari kalangan yang ditawan, sedangkan Rasulullah SAW mempunyai bapa saudaranya iatu Abbas yang turut ditawan. Rasulullah SAW tidak lena tidur memikirkan terpaksa membunuh bapa saudaranya itu.


Rasulullah SAW memilih untuk mengambil harta rampasan dan membeli senjata bagi kelengkapan orang Islam. Lalu turunlah ayat menegur tindakan Baginda itu:

Al-Anfal[67] Tidaklah patut bagi seseorang Nabi mempunyai orang-orang tawanan sebelum dia dapat membunuh sebanyak-banyaknya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda dunia (yang tidak kekal), sedang Allah menghendaki (untuk kamu pahala) akhirat. Dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana

Menangis dan menyesallah Nabi dan para sahabat (kecuali Sayyidina Umar).Kata Nabi “kalau diturunkan azab, hanya Umar r.a. yang selamat kerana dia yang menentang keputusan ini”. Akhirnya mereka diampunkan kerana itu pertama kali kes seperti ini berlaku kepada orang Islam.

BILA TELINGA BERDENGUNG , BERSIN DAN MENGUAP

Bacaan bila telinga berdengung

Rasulullah s.a.w bersabda:”Apabila berdengung telinga seorang kamu, maka hendaklah ia mengingati Allah dan berselawat kepadaKu. Setelah itu hendaklah ia ucapkan pula: “Dzakarallahu man dzakaranii bi khair” (Allah akan mengingati seseorang yang mengingati Rasul secara baik) [Hadith Riwayat Ibnu Sunny]

Bacaan ketika bersin

Selepas bersin hendaklah mengucapkan “alhamdulillah (segala puji bagi Allah) ” dan orang yang mendengarnya hendaklah mengucapkan “yarhamukallah”(semoga Allah merahmati kamu) sebagai mendoakan kesejahteraan orang yang bersin itu, serta dibalas pula oleh orang yang bersin dengan mengucapkan “Yahdiinaa wayahdiikumullah”.(Semoga allah rahmati kita semua dan diberi hidayah olehnya)


Bersin yang terlalu kerap melebihi 3 kali menandakan seseorang itu kemungkinan diserang selsema.

Islam suka bersin, tak suka menguap


Bersin adalah cetusan dari kecergasan akal manakala menguap adalah cetusan dari kemalasan.

Nabi Muhammad saw bersabda maksudnya: “Sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang bersin, dan membenci orang-orang yang menguap. Maka apabila seseorang kamu menguap, jangan sampai berbunyi, kerana yang demikian itu daripada syaitan yang mentertawakanmu. ” Hadith riwayat Imam Muslim, Ahmad dan At-Tirmidzi.

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:”Sesungguhnya Allah S.W.T sukakan bersin dan benci pada menguap. Jika salah seorang kamu bersin dan memuji Allah S.W.T, hendaklah orang Islam yang mendengarnya mengucapkan “(Yarhamukallah)”. Sedangkan menguap itu adalah daripada syaitan. Maka jika seorang kamu menguap hendaklah ia mengembalikannya (menahannya) sedapat mungkin, kerana apabila kamu menguap, syaitan akan ketawa melihatnya

Adab ketika menguap


.”Daripada Abu Said Al-Khudri r. a., katanya : Telah bersabda Rasulullah s. a. w. yang bermaksud: “Apabila seseorang kamu menguap, hendaklah dia meletakkan tangannya pada mulutnya, kerana sesungguhnya syaitan itu akan masuk (melalui mulut yang terbuka.” Hadith Riwayat Imam Muslim.

Daripada Abdullah bin Az-Zubair r. a., katanya: Telah bersabda Rasulullah saw yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah swt membenci sesiapa yang mengangkat suara ketika menguap dan bersin.” Hadith riwayat Imam Muslim, Ahmad dan At-Tirmidzi

Difailkan dalam: Hadith